ASAL USUL SIBARAMBANG
Setiap daerah yang sudah menjadi pemukiman masyarakat tentunya memiliki
proses dan sejarah yang berbeda-beda. Pada umumnya bukti sejarah berdirinya
sebuah nagari di Minangkabau sangat minim sekali baik berupa prasasti-prasasti
ataupun tambo yang sengaja disusun dalam bentuk buku. Hal yang sama juga dialami oleh nagari
Sibarambang.
Sebagai sebuah nagari, Sibarambang sudah di huni oleh nenek moyang yang
menetap di daerah Karimbang Batu Alang dan sekitarnya sebelum adanya kerajaan
Minangkabau Pagaruyung.
Dalam buku sakunya Basri (1997:5) mengatakan bahwa menurut cerita Cindur
Mato pernah singgah di Karimbang sebelum melanjutkan perjalanannya ke daerah
bukit Tambuntulang. Bukit Tambuntulang merupakan daerah yang dianggap ekstrim
oleh kebanyakan orang karena daerah tersebut terkenal dengan penyamunannya.
Sibarambang sebagai suatu nagari tentunya tidak terlahir atau terbentuk
begitu saja. Namun pasti ada sejarah ataupun asal usul mengapa daerah ini
dinamakan Sibarambang. Untuk lebih jelasnya disini akan diuraikan proses
terbentuknya Sibarambang.
Bermula dari proses kedatangan nenek moyang yang mendiami Sibarambang
pertama kali yaitu keturunan yang berasal dari orang nan Salapan (Siba nan
Salapan). Adapun keturunan yang menghuni delapan kelompok/ daerah itu adalah:
1.
Karimbang
2.
Batualang
3.
Tanjung
4.
Guguk Golam
5.
Kosambi
6.
Puncak Baih
7.
Kubang
8.
Sialalang
Pada waktu daerah Karimbang dan Batualang pertama dihuni oleh nenek
moyang pertama atau lebih dikenal dengan Urang
Tigo Niniek ( orang tiga niniek). Saat itu daerah ini masih kondisi hutan
lebat dan dihuni oleh banyak binatang buas seperti harimau dan gajah.
Tidak jauh dari daerah tersebut juga terdapat daerah yang disebut dengan
Lokuak Tanongan yang menurut sejarah merupakan daerah dimana tempat bermukimnya
gajah ketika itu. Karena daerah ini dijadikan kubangan oleh gajah yang hidup
saat itu maka aliran airnya mengarah ke Lurah Barombang yang muara airnya
berada di Lubuak Kankuang sekarang. Dahulu ketika sumber air masih banyak di
Lurah barombang memancar air lebih kurang setinggi 10 m atau tepatnya di Luak
Palo sekarang.
Merujuk dari proses alam diatas, maka untuk membuat pemukiman baru serta
agar terhindar dari gangguan binatang buas berkumpulah pemuka-pemuka Karimbang
dan Batualang saat itu. Dan diperoleh kesepakatan untuk mengundang kaum yang
bermukim diluar daerah Karimbang-Batualang tersebut. Hasil kesepakatan tersebut
ditetapkanlah Koto Kociak sebagai tempat bermusyawarah.
Pada saat perundingan dilaksanakan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka yang
berasal dari Siba Nan Salapan tadi, maka diperoleh kesepakatan untuk membentuk
nagari dengan memberi nama sibarambang. Siba diambil dari kaum
yang akan menghuni nagari tersebut yaitu kumpulan dari orang-orang Siba Nan
salapan. Sedangkan barambang diambil dari keadaan alam yang diuraikan
diatas yaitu Lurah Barombang. Sejak saat itu sepakatlah forum musyawarah untuk
memakai nama nagari yaitu SIBARAMBANG. Hal ini juga senada dengan Pituah Adat: Bulek Aia dek Pambuluah, Bulek Kato dek
Mufakek.
Sayangnya perkiraan waktu kapan nagari Sibarambang didirikan memang belum
didapatkan data dan nara sumber yang pasti karena sejarah berdirinya nagari
Sibarambang tidak didukung oleh prasasti, simbol, sajar, ataupun tambo
tertulis. Namun asumsinya adalah bahwa Sibarambang telah ada sebelum kerajaan
Minangkabau ada. Karena sebelum kerajaan Minnagkabau Pagaruyung berdiri (1300
M) telah ada kerajaan kecil di sekiitar bagian barat Sibarambang yaitu ada
Kerajaan Kacang Rosam (Katialo, Paninjauan, dan Tanjung Balit sekarang) dan
sebelah utara ada kerajaan Tembago (daerahnya Kolok dan Lunto sekarang).
Dahulunya nagari Sibarambang berbatasan langsung dengan kerajaan yaitu:
Sebelah Timur dan
utara berbatas dengan kerajaan Tembago. Adapun daerahnya yaitu Kolok, Guguk
Percaturan, Guguk Kubu, Gunung Surek dan Talago Gunuang. Sedangkan sebelah
Barat dan Selatan berbatasan dengan Kerajaan Kacang Rosam. Daerah Kacang Rosam
ini meliputi Pondam Puncak Ampolu, Katialo, dan Tanjung Balit sekarang.
Berdasarkan uraian diatas maka bisa kita asumsikan nagari Sibarambang
mulai berdiri sama waktunya dengan kerajaan-kerajaan tersebut meskipun tahunnya
tidak disebutkan. Karena berdasarkan keterangan dari orang tua-tua dahulu bahwa
Sibarambang tidak termasuk sebagi wilayah dua kerajaan diatas melainkan sebagai
sebuah daerah yang berdiri sendiri.
Bukti lain bahwa nagari ini sebagai nagari yang berdiri sendiri adalah
adanya sebagian wilayah kerajaan Kacang Rosam yang menjadi wilayah/ ulayat kaum
dari nagari Sibarambang. Daerah tersebut sebagian adalah Taratak Jaruai dan
Pakorohan. Samapai saat ini daerah ini dihuni oleh kaum yang berasal daru suku
Dalimo, Bendang, Patopang, Sumpadang ataupun Sikumbang. Hal ini juga terjadi
pada wilayah kekuasaan Kerajaan Tembago tempo dulu. Daerah kerajaan yang dihuni
oleh orang Sibarambang yaitu Pabusuik, Sago, dan Pisang Kolek. Ketiga daerah
tersebut tersebar kaum yang berasal dari suku Dalimo, Bendang, dan Patopang.
Setelah hilangnya kekuasaan kedua kerajaan diatas maka didirikanlah
kelarasan di bekas dua kerajaan tersebut. Nagari Sibarambang termasuk pada
kelarasan VII koto, yang berkedudukan di daerah Tanjung balit. Adapun daerah yang
termasuk lareh nan VII koto tersebut yaitu Sibarambang, Tanjung Balit,
Paninjauan, Kuncir, Kajai, dan Lumindai.
Kemudian sejak Minangkabau dikuasai oleh Belanda, maka status kelarasan
berubah menjadi district/ underdistrict. Setelah Indonesia merdeka dan terbebas
dari penjajahan terjadi perubahan lagi menjadi kecamatan. Sehingga kenagarian
Sibarambang termasuk pada Kecamatan X Koto Diatas. Adapun daerahnya yaitu
Sibarambang, Kajai, Lumindai, Talago Gunung, Paninjauan, Tanjung Balit, Kuncir,
Sulit Air, Bukit Kandung, dan Pasilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar