Persukuan di Nagari Sibarambang
Sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam sejarah nagari Sibarambang bahwa nenek moyang telah
sepakat dengan adanya 5 suku di nagari.
Adapun
rinciannya sebagai berikut:
1. Bari
dan bori di Tigo Niniak yang saat ini disebut dengan Suku Dalimo
2. Suluh
di Nan Onam, yang saat ini disebut dengan suku Patopang
3. Adat
di nan Salapan, yang saat ini disebut
4. Pusako
di nan Sapuluah yang saat ini disebut
5. Sumpah
di Sumpadang
6. Pati
di Datuak Sutan
Setelah suku terbentuk di nagari Sibarambang,
maka setiap suku memiliki daerah teritorial atau yang lazim disebut tanah
ulayat kaum.
Tanah
ulayat adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari
suatu masyarakat hukum adat tertentu atau kaum. Sedangkan Hak ulayat adalah
kewenangan, yang
menurut hukum adat, dimiliki
oleh masyarakat
hukum adat atas wilayah tertentu yang merupakan
lingkungan warganya, dimana kewenangan ini memperbolehkan masyarakat untuk
mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut
bagi kelangsungan hidupnya. Masyarakat dan sumber daya yang dimaksud memiliki
hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara
masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.
Secara
rinci hak ulayat yang telah diperuntukan untuk suku tertentu di nagari
Sibarambang yaitu:
1. Karimbang
– Batu Alang merupakan hak ulayat dari
Suku Dalimo.
2. Kasambi
– Puncak Bai merupakan hak ulayat Suku Patopang
3. Kubang
– Sihilalang merupakan hak ulayat Suku Sikumbang
4. Tanjuang
– Guak Golam merupakan hak ulayat Suku Bendang
Setiap
suku itu terdiri dari beberapa rumah gadang. Orang yang sarumah gadang persaudaraannya lebih dekat dari pada sasuku. Tiap
rumah gadang itu terdiri dari beberapa ruang. Orang yang saruang, lebih dekat persaudaraannya dari pada yang sarumah gadang.
Adapun
pembagian suku dan rumah gadang di nagari Sibarambang sebagai berikut:
1. Suku
Dalimo memiliki 8 (delapan buah) rumah gadang
a. Rumah
gadang Gobah
b. Rumah
Gadang Manjuang
c. Rumah
Gadang Topi Sawah
d. Rumah
Godang Guak Limau
e. Rumah
Gadang Tanah Sirah
f.
Rumah Gadang Longuang
g. Rumah
Gadang Payaboda Pangka
h. Rumah
Gadang Payaboda Ujuang
2. Suku
Patopang memiliki rumah gadang
a. Rumah
Gadang Gontiang Balai
b. Rumah
Gadang Kutianyir
c. Rumah
Gadang Rumah Pandan
d. Rumah
Gadang Rumah Rorak
e. Rumah
Gadang Rumah Baru
f.
Rumah Gadang Tanjuang Baringin
g. Rumah
Gadang Patopang Bawah
h. Rumah
Gadang Gontiang Taboruak
i.
Rumah Gadang Koto Kaciak
j.
Rumah Patopang Ateh
3. Suku
Sikumbang memiliki 7 (tujuh) rumah gadang yaitu:
a. Rumah
Gadang Bawah Limau
b. Rumah
Gadang Godang
c. Rumah
Gadang Tongah
d. Rumah
Ujuang Bawah Talawi
e. Rumah
Gadang Rumah Panjang
f.
Rumah Gadang/ Dangau Longgua
g. Rumah
Gadang Rumah Botuang
4. Suku
Bendang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah gadang yaitu:
a. Rumah
Baru
b. Rumah
Godang
c. Rumah
Ketek
d. Rumah
Pangka
e. Rumah
Luak Lereang
f.
Rumah Tongah
g. Rumah
Lokuang
5. Suku
Sumpadang terdiri dari 8 (delapan) buah rumah gadang yaitu:
a. Rumah
Sumpadang Lokuang
b. Rumah
Sumpadang Topi Aia
c. Rumah
Sumpadang Tongah
d. Rumah
Simabu Ateh
e. Rumah
Gadang Simabu Mato Aia
f.
Rumah Panjang Simabua
g. Rumah
Gadang Piliang Mudiak
h. Rumah
Gadang Andole
Setiap
rumah gadang dipimpin oleh seorang wali rumah atau Tungganai. Tiok
rumah ba tungganai. Persaudaraan saruang, sarumah gadang dan sasuku itu
masih dipelihara dan masih kental sampai saat ini.
Rumah
gadang yang menjadi lambang sejarah persaudaraan itu, secara fisik sekarang
sudah hampir tidak ada lagi. Hampir semuanya sekarang sudah rubuh musnah
dimakan usia. Sementara inisiatif untuk membangun yang baru belum ada. Data
rumah gadang sekarang cuma sebagaimana yang tertera dalam dalam tabel berikut.
Pertalian
atau persaudaraan saruang dan sarumah gadang itu terlihat mulai berkurang.
Misalnya pada acara adat atau persukuan, kebanyakan dari generasi kurang
memperdulikan persatuan ibarat “barek
samo dipikua, ringan samo dijinjiang”. Sehingga terlihat sekarang banyak
mamak yang mengabaikan kemenakan dan kemakan tidak lagi santun pada mamak.